December 04, 2015

"Feels Like We Only Go Backwards"

It feels like I only go backwards baby
Every part of me says "go ahead".
I got my hopes up again, oh no... not again.
Feels like we only go backwards darling.

I know that you think, you sound
Silly when you call my name (my name)
But I get it inside my head all day.
When I realize I'm just holding onto
The hope that maybe
Your feelings don't show...

It feels like I only go backwards baby.
Every part of me says go ahead.
I got my hopes up again, oh no... not again.
Feels like we only go backwards darling.

The seed of all this indecision isn't me, oh no,
'Cause I decided long ago.
But that's the way it seems to go when trying
So hard to get to something real,
It feels...

It feels like I only go backwards darling,
Every part of me says "go ahead".
I got my hopes up again, oh no... not again.
Feels like we only go backwards darlin'.

Feels like I only go backwards baby,
Every part of me says "go ahead".
I got my hopes up again, oh no... not again.
Feels like we only go backwards darling.

Feels like I only go backwards baby,
Every part of me says "go ahead".
I got my hopes up again, oh no... not again.
Feels like we only go backwards darling. 

November 29, 2015

November 13, 2015

What I Want To Show You. Snow Patrol - You Could Be Happy.


You Could Be Happy.

You could be happy and I won't know
But you weren't happy the day I watched you go
And all the things that I wished I had not said
Are played in loops 'till it's madness in my head
Is it too late to remind you how we were
But not our last days of silence, screaming, blur
Most of what I remember makes me sure
I should have stopped you from walking out the door
You could be happy, I hope you are
You made me happier than I'd been by far
Somehow everything I own smells of you
And for the tiniest moment it's all not true
Do the things that you always wanted to
Without me there to hold you back, don't think, just do
More than anything I want to see you, girl
Take a glorious bite out of the whole world

November 05, 2015

Sekedar sajak murahan.

Aku ingin mencintaimu sekali saja dalam hidupku. Entah mengapa aku begitu menginginkan kesempatan itu, aku seperti gila. Biarkan aku memperlakukanmu seperti ratu dan aku rajanya. Biarkan aku memetik setiap jengkal senyummu, timbal balik atas perlakuanku padamu. Kau satu-satunya yang ku tunggu dalam setiap mimpiku. Kadang kau datang seperti harapan dan aku tak ingin bangun esok harinya. Biarkan aku mendengar semua ceritamu dan keluh kesahmu. Biarkan aku menjadi tumpuanmu saat kau membutuhkannya. Jika kita tua bersama, ku ingin kau dan aku dapat duduk bersama dan mengenang setiap langkah kecil kita. Kau lah yang terbaik yang pernah ada. Biarkan aku mencintai setiap gerak-gerikmu dalam pikiranku. Kau lah alasan setiap helai nafasku.

August 17, 2015

Minta.

Beri aku kata-kata manis dari mulutmu. Bantu aku menghilangkan pahit di lidahku yang tak bisa merapalkan kata-kata cinta untukmu.

Beri aku senyum yang teduh dari bibirmu. Bantu aku menyembuhkan kedua mataku yang terbakar terangmu.

Beri aku bisikan lembutmu. Bantu aku membungkam suara-suara tak bertuan di dalam kepalaku.

Beri aku dirimu. Bantu aku mengisi jasad yang ampang ini dengan jiwa.

Aku meminta. Walau aku malaikat hanya terbuat dari cahaya.

August 12, 2015

Belief.

Love is an art of silence. You only know it's real(ly there) when you stop talking about who's the king of the world.

Love is an art of seeing. You can feel it when you close your eyes and see through the nothingness there.

Love is an art of being still. You still taste its motion on your skin across the universe when you are all alone.

Love is an art of believing. Love is an art of sharing silence together, starring at the night sky or the city light, and believe that you both living in a romantic comedy movie with a touching ending.

Love is an art of being human. We are loves  trapped in physical bodies.

When I say I love you, it means I really wanna make you more human. Filthy and sinful, yet pretty,  and graceful.

Take your time, I'll keep up with mine.

August 09, 2015

Karat.

"Sudah, tak apa dengan kabar itu," gumamku skeptis sambil menepuk pundak sendiri.
"Mau apa lagi coba, toh kau sudah pengalaman dalam hal ini," sambut aku yang lain sambil lalu.

Ku letakkan dengan tenang earphoneku ke kedua lubang telinga yang seakan sudah lapar melahap benda plastik itu. Semua suara seakan hilang walau belum satu nada pun terputar. Aku masih harus memilih lagu yang tepat dulu sebelum benda ini bisa berbunyi.

Dengan penuh spekulasi ku pilih Love Lost milik band The Temper Trap sebagai pembuka. Memang biasanya aku memilih lagu ini untuk membentuk bayangan diriku saat menghadapi kenyataan serupa, tapi entah kenapa aku tak menikmatinya kali ini. Tetap ku dengarkan sampai habis.

Secara acak, Radiohead menyusul dengan melantunkan sebuah lagu dari album Pablo Honey mereka, Stop Whispering. Walau lagu ini adalah satu di antara beberapa lagu favoritku, tapi kali ini tetap tak ada reaksi berlebih dariku. Ku dengarkan hingga selesai.

Aku mulai abai dengan dunia luar setelah beberapa lagu lain, satu per satu, menyelesaikan antrian mereka. Perhatianku mulai terfokus pada playlistku ini. "Kenapa kau tak lagi menikmati lagu-lagu itu?" tanyaku pada aku yang lain. Aku bungkam saja.

Ku silangkan tanganku di bawah kepala, terlentang. Kurangkai lagi beberapa pola aneh di langit-langit kamar menjadi beberapa benda fantasi yang aku bahkan tak tahu itu ada atau tidak. Telingaku masih lahap memangsa nada yang keluar liar dari earphoneku.

Bosan bermain dengan langit-langit, kupejamkan mata. "Sudah saatnya?" tanyaku pada aku yang lain. "Oke boss, sekarang ya," jawabnya bersamaan dengan berakhirnya A Story of Boy Meets Girl, sebuah scoring film 500 Days of Summer karya Rob Simonsen dan Mychael Danna.

Tepat sebelum aku tahu lagu apa pun yang akan disenandungkan oleh teleponku setelah ini, kembali ku mulai bayanganku tentang dirimu. Pikiranku adalah sebuah studio mini yang kerap membuat film-film fiksi tentang kehidupan masa depanku. Dan akhir-akhir ini, kebanyakan pemerannya adalah kau dan aku.

Ya, aku memang tak bisa menjadikan kau pasanganku saat ini, tapi aku bisa berbuat apa pun dalam studio mini ini. Karena aku adalah sang produser dan aku yang lain adalah sutradaranya di sini.

Sudah kuhasilkan beberapa mimpi indah dari studio ini dan ku bagi dalam beberapa episode. Ada satu episode tentang betapa gemetarnya ruas-ruas jariku saat memegang tanganmu, juga satu episode tentang waktu yang melambat saat ku tatap dengan dalam (dengan rasuk) lubang hitam di matamu.

Tak lupa pula satu episode singkat tentang suasana sore hari di kota Blitar, saat burung-burung beterbangan pulang ke sarang dan cahaya langit mulai jingga, dan ku katakan tentang perasaanku padamu dengan degupan jantung yang meledak-ledak.

Sempat juga aku buat sebuah fiksi imajinasi tentang kau yang memberikanku senyumanmu padaku di sebuah cafe. Saat itu kita sedang berbincang tentang hidup yang panjang ini. Ku kutip senyuman itu dari senyumanmu di dunia nyata, saat aku bertemu kembali denganmu setelah sepuluh tahun lamanya.

Masih banyak episode-episode lain yang tak kusebutkan di sini. Sebagian besar melibatkan senyumanmu yang ku kutip itu, karena hanya itu fakta yang ku tahu.

"Tiga, dua, satu, action!" seru aku yang lain untuk memulai episode kali ini. Belum ku putuskan apa tema yang akan mimpikan kali ini, tapi aku tak peduli. Biasanya tema itu akan datang sendiri, sesuai dengan lagu yang kudengarkan.

Setelah kesunyian yang singkat, lantunan nada pembuka dari dua buah gitar mulai membimbingku berperan. Nada-nadanya seakan memetakan suasana lagu ini. Sayup terdengar tarikan nafas dari sang vokalis sebelum merapalkan kalimat pertamanya. Aku tahu lagu ini.

"I lose some sales and my boss won't be happy," lantun sang vokalis. Ya, aku kenal lagu ini, ini adalah Homesick dari Kings Of Convenience. Setting lokasi cerita mulai tergambar, pelan-pelan dari pudar namun semakin lama semakin jelas. Aku sadar, ini adalah kamarku, tempatku merebah saat ini di dunia nyata, tanpa ada yang berbeda.

"Kali ini, perankanlah aku dalam dunia nyata. Kau sudah hafal naskahnya, kau sudah paham perannya, dan kau sudah kenal betul latar belakangnya," kata aku yang lain, sang sutradara.

Aku tak menolak apa pun dari instruksi itu. Selain aku memang tak bisa menolaknya, aku juga tak mau. Sudah terlalu lahap telingaku menancapkan taringnya dalam lagu ini.

Ku mulai peranku dengan mengingat lagi rasa kebas di hati ini saat ku baca pesan singkat temanmu. "Sudah ada seseorang yang mengisi hatinya," bisik temanmu lewat pesan itu. Kuingat lagi setiap detil detik kebas itu.

Entah mengapa hatiku tak hancur saat membacanya, aku juga heran. Tapi jelas aku merasa kebas, bagai jutaan kaki kecil semut-semut hitam merayapi sesuatu di antara perut dan dadaku. Semut-semut itu memakan semua bayangan manis tentang kekosongan di hatimu, yang ku simpan di dalam sini.

Kutelaah lebih jauh, aku mulai bertanya kenapa hatiku tidak hancur saja seperti biasanya. Aku sudah berkali-kali mengalami yang seperti ini, tapi baru kali ini aku tidak hancur. Apakah karena dia tidak spesial? Apakah karena aku tak sungguh-sungguh ingin menjadikan fiksi-fiksi itu dokumenter terbaik dalam hidupku? Atau ada hal lain?

Sementara aku berfikir, lagu ini telah usai. "Sebentar! Aku belum selesai!" seruku. Ku putar kembali lagu itu, ku pilih opsi untuk mengulangnya terus menerus agar aku tak berhenti di tengah jalan lagi. Sang Raja pun kembali memainkan gitarnya.

Aku dengarkan lagu ini sambil terus berfikir. Lama kelamaan, sayup ku dengar jawaban dari aku yang lain. "Kau sudah berhati besi, mungkin," tuturnya.

"Bisa jadi," jawabku. Semua kejadian serupa yang telah menghancurkan hatiku berhasil membuat aku yang lain lebih berhati-hati dalam merangkainya lagi. "Apa kau memolesnya dengan besi setelah yang lalu?" tanyaku.

"Mungkin," jawabnya. Jawaban itu tak membuatku yakin. Ku buka saja catatan perbaikan yang sudah ku buat.

Ya, sepertinya setelah yang lalu, aku sudah memolesnya dengan besi. "Aku memang sudah memolesnya dengan besi agar tak mudah pecah lagi," terangku. Aku yang lain hanya mengangguk asal.

"Jadi yang ini tak spesial?" tanyaku. "Tapi rasa kebas apa ini?" Aku dan aku yang lain hanya terdiam, saling pandang dengan tatapan kosong.

Aku yang lain lagi, yang selama ini hanya diam sambil menontonku dan aku yang lain bermain fiksi akhirnya angkat bicara. "Kita sudah tumbuh lebih tua, waktu yang memberi tahu," katanya.

"Apa maksudmu, bodoh?" sentak aku yang lain. Kupalingkan pandanganku padanya pula. Dia hanya memasang mimik wajah datar.

"Kini kita tak lagi bisa berharap sesuka hati. Coba dengarkan saja lagu ini," katanya. Tepat di saat itu, terlantunlah lirik "Everyday there's a boy in the mirror asking me what are you doing here."

Aku masih belum mengerti, tapi merasa sangat setuju dengan lagu ini. Akhirnya ku coba sekali lagi menikmatinya. Ku sesap makna-makna terkecilnya dan ku bumbui dengan interpretasiku sesuai selera.

Lagu ini entah mengapa memiliki kekuatan tersendiri untuk kusukai kali ini. Setelah beberapa saat mencari petunjuk, aku lihat segaris cahaya terang di sana. "Boleh aku bicara?" tanyaku pada mereka berdua. Tak ada anggukan atau gestur lainnya, hanya pandangan mata mereka yang menjawab setuju.

"Aku adalah seorang bocah yang memiliki impian besar, menaklukkan dunia ini dan berpetualang menjelajah setiap sudut indahnya," tuturku. "Untuk itu, aku beberapa saat lalu mencoba membangun mimpi itu dengan mengumpulkan uang di kota ini. Padahal selama ini aku sangat membenci kota ini."

Kedua orang itu mulai tertarik dengan kata-kataku. Mereka mulai mengangguk kecil. Kulanjutkan kata-kataku.

"Selama mencari uang, aku simpan semua rasa benci, jenuh, tak nyaman, lelah, tertekan, takut, sedih, kebingungan, gelisah, khawatir, dan kecewa dalam sebuah liang dalam yang ku gali dalam hatiku demi mewujudkan mimpi itu," terangku bagai guru.

Ku tarik nafas panjang. Mereka pun mengikutiku.

"Sialnya, saat ku kubur semua rasa itu, mereka melebur di dalam liang itu, menjadi bijih-bijih besi yang kau tambang kemarin dulu," kataku sambil menunjuk aku yang lain.

"Oh ya, benar, aku yang menambang bijih-bijih besi itu. Ku tempa mereka menjadi lembaran-lembaran besi yang ku gunakan untuk melapisi hati kita," katanya.

Aku yang lain lagi mengalihkan pandangannya ke aku yang lain. "Lalu?" tanyanya.

"Aku menyadarinya saat mendengarkan lagu ini. Lagu ini menceritakan tentang seseorang yang ingin pulang namun masih banyak hal lain yang harus diselesaikan untuk mimpinya, seperti kita!" seru aku yang lain. "Akhirnya rasa ingin pulang itu pun ia tutupi dengan lempengan besi ini. Begitu pula dengan perasaan-perasaan lainnya."

"Termasuk rasa 'itu'?" tanya aku yang lain lagi. "Jadi kita juga menutupinya dengan lempengan besi yang terbentuk dari kumpulan rasa yang kau pendam itu?"

"Bisa jadi," jawabnya. "Bagaimana menurutmu?" tanyanya padaku.

"Sepertinya begitu. Tapi entah mengapa perempuan itu masih bisa memberikan rasa kebas di hati yang berselimut besi ini," jawabku.

Kami semua terdiam. Lagu ini telah berakhir sekali lagi, dan kembali berputar sekali lagi. Kami resapi benar-benar dengan mata terpejam kali ini, dari awal hingga akhir. Sekali lagi lagu ini berakhir dan kembali berputar.

Bayangmu mulai kembali lagi ke benakku. Kau lah perempuan itu. Rasa kebas itu datang lagi, merayap rata di seluruh hatiku saat aku membayangkanmu. Semakin lama semakin terasa, aku pun tak dapat menolak untuk kembali membayangkan senyum-

"Tunggu!" sentakku. "Senyum itu!" Kami bertiga saling pandang seolah tak percaya kami baru menemukan sesuatu.

"Ya! Aku tahu! Ini semua karena senyum itu!" seruku. "Senyum sangat tajam hingga menembus lempengan besi kita, dan entah bagaimana membuat hati ini terasa kebas!"

"Benar! Dia berhasil menembus pertahanan kita!" imbuh aku yang lain lagi. "Tapi jika memang senyuman itu tajam, bukankah seharusnya hanya satu sisi saja yang merasakannya, sementara kebas ini rata?"

"Benar. Atau mungkin senyumnya adalah seribu jarum yang menusuk-nusuk seluruh lempengan ini?" jawab dan tanya aku yang lain. "Jadi penasaran dengan lubang yang sudah dia buat," ujarnya sinis.

"Tapi aneh, kenapa kita tak merasa tertusuk apa pun saat senyum itu kita dapat? Kenapa harus menunggu kabar tentang hatinya yang telah terisi dulu?" timpalku sedikit keheranan.

Kembali, aku berpikir keras. Ku rangkai dari awal saat aku kembali bertemu denganmu, kau dengan baju ungu itu, ku pandang dari jauh, akhirnya kita bertukar sapa, terlontar canda kecil, lalu akhirnya kau lemparkan senyum itu padaku.

Sejak saat itu kucoba cari jalan menujumu. Tapi apa mau dikata, aku malah tersesat tanpa petunjuk. Hingga akhirnya kutanya temanmu tentangmu, dan ku dapat lah kabar itu. Tetap tak kutemukan ada tusukan, sayatan, pukulan, atau apa pun darimu yang bisa melukaiku. Hanya cerita tentangmu yang telah memilih, yang memberiku rasa kebas ini.

"Aku tidak tahu," kata kami hampir serentak saat lagu Homesick yang terus terputar sejak tadi hampir berakhir lagi.

Aku yang lain mencoba membuka kata. "Bagaimana jika kita lihat hati kita?" katanya. "Jadi kita bisa tahu luka apa yang ia sebabkan, bagaimana bentuknya, dan mungkin alasan mengapa 'luka' ini tidak menghancurkan hati kita. Bahkan tak ada rasa sakit!"

Aku setuju. Kutarik nafas pelan sebelum kuanggukkan kepala. Aku yang lain lagi malah lebih dulu menganggukkan kepalanya. Aku menyusulnya.

Kami semua menengok ke belakang, melihat sebuah jalan setapak menuju tempat hati kami bersembunyi. Kami hampiri pelan-pelan agar dia tidak kabur lagi.  Begitu kami yakin kami sudah sampai di tempat hati itu bersembunyi, kami menutup mata. Kami memang hanya bisa melihatnya saat memejamkan mata.

Betapa mengagetkan yang kami lihat. Hati itu nampak usang, compang-camping tak karuan, lebih tepatnya digerus oleh karat.

"Hei! Besi ini berkarat!" seruku. "Tapi lihat, tak ada luka tusuk sama sekali. Hanya karat ini mengelupas lapisan-lapisannya satu per satu."

"Kau lah yang melapisinya dengan besi! Kau lah yang merusaknya!" kata aku yang lain lagi. Tapi sejenak ia terdiam dan melanjutkan kata-katanya dengan lebih tenang. "Tapi tidak seharusnya besi ini berkarat, di luarnya hanyalah ruang hampa yang bernama logika."

Kembali kami terdiam. Kami tahu ada permainan kimia yang membuat besi jadi berkarat. Tapi kami benar-benar kehilangan petunjuk mengapa besi ini bisa berkarat walau tanpa ada reaksi kimia apa pun.

"Jangan salah, ada satu hal yang secara bodohnya tak kau sadari sedari tadi," celetuk seorang aku. "Berapa kali kau hirup nafas panjang tadi, idiot."

Kami bertiga, yang adalah satu aku, tercengang mendengarnya. Betapa bodohnya aku tak menyadari berapa kali ku tenangkan diri saat mendengarkan lagu Homesick berputar dengan menghirup nafas panjang. Sejuta kesimpulan menyerbu pikiranku. Aku tahu ini, aku tahu itu, kenapa, mengapa, bagaimana, dan satu hal penting, siapa: Kau.

Ini bukan kebas, tapi rasa yang ada saat hati ini terkupas lapisan demi lapisannya. Karat yang pertama terbentuk saat aku satukan hati dan pikiran, mimpi dan logika, saat ku tahu nyatanya hatimu telah terisi. Ini adalah rasa yang ditimbulkan oleh karat yang terbentuk akibat reaksi besi ke oksigen. Rasa yang menggerus perlahan hatiku dari permukaannya hingga lapisan yang terdalam.

Ya, ada oksigen di sini. Oksigen yang dihasilkan oleh pohon perasaanku padamu. Pohon yang menancapkan akarnya, kuat, ke pikiranku. Karenanya aku sering habiskan waktuku untuk itu.

Pohon ini berasal dari bibit yang kau beri padaku dan ku tanam seketika. Bibit perasaan 'itu' yang ku tanam tepat di ingatanku tentang senyummu. Aku pilih senyummu karena aku sangat mengaguminya.

"Kita sudah salah selama ini, dia tidak melukai siapa pun. Dia memberi kehidupan, malahan," kataku lirih. "Itulah mengapa lagu ini menjadi tema kali ini."

Aku telah mencabut sebagian rasa demi mimpiku, menguburnya, bahkan menempanya menjadi lempengan-lempengan besi yang dingin dan kugunakan untuk menutupi hati dari apa pun, termasuk rasa rindu rumah. Aku tak lagi peduli di mana rumahku, aku hanya melihat lurus ke arah tujuanku.

Tapi kau beri aku satu bibit rasa 'itu'. Ku tanam di senyummu yang indah, dan kini ia telah tumbuh menjadi pohon yang mengakar kuat. Ia buat oksigen dari sari pati waktu dengan bantuan cahaya bulanmu yang menyelimuti malamku.

Oksigen ini pun mengkaratkan besi dingin itu pelan-pelan, dimulai saat ku terima pesan pendek dari temannya itu. Pesan yang membenturkan dunia fiksiku dan dunia nyata. Menyatukan lempengan besi ini dengan oksigen hasil pohon yang telah mengakar kuat itu.

Tak hanya itu, oksigen ini memberi kehidupan lagi pada rasa-rasa yang sudah ku bunuh. Mereka kembali tumbuh, dari kecil lagi, satu per satu. Aku kembali tak mati rasa. Aku takut, sedih, kebingungan, juga rindu pulang. Aku jadi manusia lagi, aku hidup lagi.

Aku takut oleh waktu yang semakin mengancam. Sebentar lagi aku sudah tak boleh berharap tentangmu lagi. Aku harus menyerah nanti, tapi tidak sekarang. Karena rasa takut ini membuatku berhati-hati.

Aku sedih karena aku tak bisa memilikimu secara pasti. Hatimu telah terisi dan tak ada ruang atau
kesempatan lagi. Aku akan menerimanya nanti, tapi tidak sekarang. Karena rasa sedih ini membuatku kembali belajar.

Aku kebingungan sebab kita terpisah dalam segalanya. Jarak dan keadaan membuat semuanya tak memungkinkan. Aku pasti melepaskannya nanti, tapi tidak sekarang. Karena kebingungan ini membuatku berpikir.

"Hei! Hati ini terus tergerus. Apa yang bisa terjadi nanti?" tanya seorang aku.

"Kau akan sampai di lapisan yang terdalam," jawabku.

"Apa isi lapisan terdalam itu?" tanyanya lagi.

"Seorang anak laki-laki. Ku dengar ia cengeng," jawab aku yang lain.

"Kita lihat saja di mana kita saat dia datang nanti," tambah aku yang lain lagi. "Bisa jadi kita sudah ada di tempat tujuan kita, bisa jadi kita masih di tengah jalan, bahkan bisa jadi kita sudah pul-"

Kata-katanya tersendat. Ada kata yang seharusnya diselesaikan tapi tidak diselesaikannya. Ada bayangan pekat tentang pelukan hangat seorang wanita yang menyambutnya di depan pintu. Semua orang merasakan apa yang kurasakan.

"Aku rindu pulang. Aku benar-benar rindu pulang," gumamku lirih. "Tapi saat ini hanya satu tempat untuk pulang yang dapat kupikirkan, dan aku masih belum bisa menujunya."

"Aku tahu, aku juga berpikiran sama," kata aku yang lain.

"Ya, hanya ada satu tempat," tambah aku yang lain lagi.

"Sebuah dunia, dimana aku bersama perempuan itu," tutur seorang aku.

Tepat di sini, pembicaraan itu berhenti. Semua kegiatan di studio mini itu telah usai. Aku memilih untuk tak memutar ulang lagu Homesick ini. Aku pilih sadar, diam, merasakan kesunyian dalam kamarku yang gelap. Aku ingin merasakan semesta tempat kau dan aku hidup di dunia yang sama, namun terpisahkan berbagai hal lainnya.

Semesta tempat pohon itu hidup, menghidupi hatiku, serta mengikis lapisan-lapisannya. Mencoba memunculkan intinya, aku kecil yang cengeng, dan memberi pertanyaan apakah nanti dia akan kau tenangkan di pundakmu atau tidak.

Semesta tempatku berjalan, menuju satu titik yang menjadi mimpiku. Dan sebuah tempat untuk pulang yang baru-baru ini ku temukan. Jika aku bisa, aku akan mencoba berkunjung di beberapa hari. Tapi tidak saat ini, karena aku masih harus mengejar mimpi.

Entah apakah nanti akan aku lupakan tempatku pulang itu saat sudah ku capai mimpi, atau bahkan tempat itu telah hilang karena terlalu lama kulupakan. Bahkan apakah tempat itu ada? Aku tak tahu, aku hanya menuruti bisikan aku kecil yang cengeng ini.

Hanya satu tempat yang menjadi tujuanku pulang saat ini: sebuah dunia bersamamu. Sementara aku belum bisa kembali ke sana, aku akan terus melangkah menuju mimpiku. Semoga aku masih boleh pulang.

July 28, 2015

Bisu.

Aku ingin berbagi sesuatu denganmu. Keheningan malam, cahaya lampu kota, perkiraan-perkiraanku tentang semesta, atau sekedar cerita cinta di balik lagu favoritku.
Tapi aku bahkan tak dapat merapalkan sebuah kata malam itu, satu-satunya kesempatanku bertemu denganmu. Ada ketakutan tentang masa depan di balik mulut yang terkunci itu, ada teriakan dan umpatan yang meletup-letup di kepalaku.
Kau masih misteri bagiku, apakah kau kosong atau telah terikat rasa dengan seorang rekanmu. Wahai misteri, permainkanlah aku sesukamu.
Ada hati yang kosong di tepi semesta ini, dan pintaku kau pun berkata begitu. Tapi andai kosong dan kosong saling mengisi, apakah bisa disebut memenuhi?
Dialog dini hari yang berkata lewat lagu ini seakan memberiku  sebuah ayat. Dengan dilebih-lebihkan, ia lantunkan: "Sementara waktu merubah kita".

July 25, 2015

Temu.

Aku menujumu harus menempuh jutaan langkah.
Hanya demi berharap jarak ini akan mengalah.
Aku merindumu harus menanti ratusan hari.
Hanya demi berharap satu nanti kau kan mengerti.
Aku menatapmu diam-diam dari kejauhan malam itu.
Terlalu takut terlalu dekat kau tahu kau jadi inginku.
Tulisan ini hanya satu dari beberapa yang takkan kau baca.
Aku tahu itu, tapi biarkan aku bahagia dengan mengkhayalkannya.

Cari.

Kita mencoba menata langit. Menyusun bintang serapi mungkin, menekuni setiap inchi kekosongan dan memadatkannya di bumi. Cahaya lampu gedung-gedung yang serakah, namun kesepian hingga tak mampu tuk tak saling berdekatan.

Lalu apa yang tersisa dari kegelapan itu? Wajah-wajah kelabu yang memikul rahasia. Tak ada yang tahu jika mereka menangis kemarin malam, menyesali setiap detik palsu yang mereka tunggu tak kunjung datang.

Aku, ada di satu penjuru tanah ini. Menembus gugusan rasi yang tak pernah dinamai. Menggumamkan raungan kurcaci yang menyanyi di kepalaku, sambil mengharap wajahmu ada di satu sudut jalan itu.

Di suatu lajur barisan lampu di tepian kota, aku bertanya: Apa kabarmu di sana? "Lupakan saja orang yang tak bisa kau isi hatinya," jawab pohon belimbing. Ia akan ditebang oleh pemiliknya besok, ia tak pernah berbuah uang.

Remeh.

Kadang aku hanya ingin kau membawa hatiku dalam kotak kecilmu.
Kau bisa memainkannya seperti boneka jerami, melemparnya ke langit dan menangkapnya lagi.
Menjadikannya umpanmu memancing kupu-kupu surgawi.
Meniupnya bagai gelembung daun jarak yang rapuh mengambang.
Memberinya roda kulit jeruk dan menyeretnya di sepanjang jalanmu pulang.
Memberinya nama lalu menemanimu tidur.
Kau baca saat senggang di cahaya terang.
Berikan dia gitar agar bernyanyi, ia hafal ribuan lagu remeh.
Itu lebih baik dari aku memegang hati dan impianmu di tanganku.
Kau belum tentu bahagia karenaku, apa lagi tersenyum.

Untuk Namamu.

Jika bukan kepadamu, aku tak tahu kepada siapa lagi akan kutambatkan hati ini.
Aku telah lelah berlabuh ke seribu dermaga yang dangkal.
Aku jenuh terombang-ambing ombak lautan dalam.
Biarkan, sejenak saja, aku merasakan hangat pelukmu di malam yang dingin.
Biarkan sedikit saja ku bagi kesunyian ini denganmu.
Aku tak kuasa lagi menahan semua cerita yang kusimpan sendiri selama ini.
Jika harus berbagi, aku hanya ingin kepada telingamu yang indah.
Akan ku bisikkan pelan semuanya, tanpa daya, karena aku terlalu bahagia.
Aku tak sehebat dulu menahan langkah kakiku menapak jalanan dunia.
Dan jika aku harus menggandeng seseorang, ku ingin tanganmu yang menyentuh telapakku.
Akan kusisipkan jari-jariku di antara ruas jari-jarimu, karena aku ingin sedekat mungkin denganmu.
Jika nanti kau dan aku memang harus berbagi kapal ini, aku tak tahu akan berkata apa.
Akan kuajak kau berlayar ke seluruh sudut dunia, menjelajah jutaan hari yang lebih indah dari Maladewa.
Beri aku suar, agar ku tahu letak labuhmu.
Akan kutarungi badai Pasifik, kubantai petir-petir Zeus, kutantang dinginnya Artik, demi menggapai suarmu.
Kau tahu itu, dan kau sadar kapalku tak seindah bahtera Nuh.
Bila kau ragu, aku paham alasanmu.
Andai kau tahu, aku sangat berharap kau menjadi labuhku.
Kau lah rangkuman semua petualanganku, namamu adalah harta karun dalam peta ku.

February 26, 2015

Tentang Perempuan Itu


Manusia dan payung memiliki ikatan tersendiri.
Begitu juga rasa dan waktu yang abadi.
Apa kau benar mendengar suara hujan menyentuh tanah, atau kau hanya terdikte bunyi air membentur aspal?
Percik demi percik magis dimainkan angin.
Ada sebuah lubang hitam di dalamnya.
Sebuah kekosongan yang mengerikan, merayap dan menelan, lalu muntah.
Membagi semua masa lalu yang abadi dengan bersitan masa depan yang tak terbatas.
Apa kau menyadari kegamangan itu?
Saat semua malam dan cahaya kota yang kau tembus perlahan tak berarti, usang dan bosan.
Aku merindukanmu, merindukan dengan sangat saat-saat aku menunggumu dalam kelas, dengan rahasia dan tertata.
Mengagumi setiap lemparan langkahmu yang ceria dalam rok panjang berbunga.
Dengan senyum yang kuartikan sendiri tanpa persetujuanmu.
Menggumamkan namamu dalam sendiriku, dalam-dalam dan lirih, hingga tertidur dalam harap yang mencekik.
Lebih mirip tenggelam dalam kolam yang tenang daripada di lautan bergelombang.
Kau adalah tepian semestaku.
Berjalan dengan indahnya di kaki langit, menunggu sebuah kepastian dari sang waktu.
Kau lah sang matahari dalam sinar bulanku.
Meriuh di satu sisi, namun dingin dan sunyi menyertai.
Aku pengagummu.
Gerakmu.
Bisikanmu.
Senandung lirihmu.
Dan hari-hari hujan dimana kau menunggu payungku.
Maaf aku tak pernah datang, waktu telah mengalahkanku.