November 13, 2010

Kita.

Kita bertemu di satu titik.
Mencoba membuatnya menjadi garis.
Lalu mulai membuat belokan di garis itu.
Kita bagai dua anak empat tahun yang mencoba menggambar sesuatu.
Tak selalu berisi kenyataan.
Sepatut kita dipenuhi khayalan.
Mungkin sebuah gambar matahari tersenyum di balik kapas langit.
Kita coba buat seindah mungkin.

Sampai suatu saat yang pasti kita akan terhenti, mungkin juga berhenti.
Crayon itu akan habis.
Ataukah kertas kita menjadi terlalu penuh terisi coretan kita.
Mungkin tangan kita yang lelah bergerak.
Bisa juga karena ada tangan usil yang mencoret karya kita.
Aku sadar itu, kau pun sepantasnya juga.

Tapi untuk apa memikirkannya sekarang?
Kita terlalu asik berkarya untuk menjadi peramal.
Kita anak TK yang sedang tak tertarik pada perosotan dan ayunan.
Kita masih sedang menggambar.
Dan kita berbakat.
Diandaikan kau anak berponi ahli pembuat sketsa dan aku bocah beringus yang pandai mewarna.
Kita sangat pantas dipadu.

Kita dua pikiran berbeda.
Kita bukan tangan kiri dan kanan dengan satu otak manusia.
Suatu saat aku akan ngambek tak suka dengan sketsamu.
Di lain detik kau akan komplain banyak dengan warnaku.
Saat itu kita bisalah licik mengambil sedikit hak tugas yang lainnya.
Kau mencampur warnaku dengan inginmu.
Sebaliknya aku merubah sedikit sketsa indahmu.
Kita harus bisa menerimanya, karena kita menggambar bersama.

Ijinkan aku berkomentar sedikit rasional.
Mungkin karena aku terlibat di dalamnya, kurasa gambar kita luar biasa.
Selama kita masih bisa, mari lanjutkan menggambar.
Aku menyukainya.
Dari coretanmu, kurasa kau pun juga.
Kita bisa, kita masih sanggup.
Karena kelas kita baru dimulai dan sekarang masih jam 8.
Waktu kita masih lama.
Crayon kita masih panjang.
Ruang di kertas kita masih luas.
Tangan kita masih penuh energi.
Imajinasi kita masih segar.
Aku masih terlalu asik untuk memikirkan untuk berhenti.
Kuharap kau pun masih menghargai gambar ini.

Ayo kita lanjutkan!
Agar aku tetap bisa mewarna sketsa-sketsa itu.
Dan sebelum tak ada warna lagi di sketsamu.

Ayo kita lanjutkan!
Gambar ini indah.

Kita masih TK dan kita tak pernah bersalah.
Matahari di belakang awan itu sepertinya kesepian.
Hey Nyebik, ayo kita gambar matahari lagi!
Tanpa tertutup awan sebagai teman.
Yang kuning cerah dan tersenyum.

0 comments:

Post a Comment