Ada rindu atas hasrat untuk berpindah yang sendu di sini. Tentang bagaimana aku terus memegang harap untuk bertemu lampu kota yang baru, atau jutaan bintang yang redup.
Ada rindu atas angin 60 kilometer per jam dalam kata-kata ini. Tentang rasukannya di sela-sela bulu tangan dan kulit pipiku, serta dekapan lembutnya di dadaku.
Ada pula rindu atas bayangan pohon mahoni jam setengah lima sore. Tentang sela-sela dedaunannya yang tertembus cahaya matahari di langit yang menjingga, serta sejuknya udara hasil fotosintesa.
Ada rindu atas lagu-lagu sendu tak berlirik dalam kalimat ini. Tentang bagaimana aku berandai-andai seolah menjadi pemeran utama dalam sebuah sinema pendek yang berakhir indah.
Ada rindu atas tenangnya sore hari juga. Saat melihat para pekerja pulang membawa harap akan senyum anak-anaknya, ibu-ibu yang menyapu halaman rumah, serta anak-anak yang berlarian di lapangan sepak bola.
Ada rindu atas mimpi yang tertahan di sini. Tentang tenang, bintang dan lampu kota, hembusan angin, udara sejuk, musik sinematis, juga langit berwarna jingga.
Ku susun rinduku, ku simpulkan serat-seratnya menjadi satu, ku pelajari lagi alurnya, lalu ku lemparkan sebuah pertanyaan.
Jika memang itu yang ku rindukan, lalu apakah rindu ini tentang tempat yang ku tuju, atau kah perjalanan untuk menujunya? Atau mungkin rindu ini tentang sesuatu yang lain?
Aku dan suara dalam kepalaku berdiskusi setiap malam tentang itu. "Aku tak tahu, yang jelas kau merindukan itu," ujarnya. Dengan senyum yang tertahan dan dalam bahasa yang tak seorang pun di dunia ini (kecuali kami) mengerti, aku katakan: "Aku benar-benar setuju."
0 comments:
Post a Comment