February 26, 2015

Tentang Perempuan Itu


Manusia dan payung memiliki ikatan tersendiri.
Begitu juga rasa dan waktu yang abadi.
Apa kau benar mendengar suara hujan menyentuh tanah, atau kau hanya terdikte bunyi air membentur aspal?
Percik demi percik magis dimainkan angin.
Ada sebuah lubang hitam di dalamnya.
Sebuah kekosongan yang mengerikan, merayap dan menelan, lalu muntah.
Membagi semua masa lalu yang abadi dengan bersitan masa depan yang tak terbatas.
Apa kau menyadari kegamangan itu?
Saat semua malam dan cahaya kota yang kau tembus perlahan tak berarti, usang dan bosan.
Aku merindukanmu, merindukan dengan sangat saat-saat aku menunggumu dalam kelas, dengan rahasia dan tertata.
Mengagumi setiap lemparan langkahmu yang ceria dalam rok panjang berbunga.
Dengan senyum yang kuartikan sendiri tanpa persetujuanmu.
Menggumamkan namamu dalam sendiriku, dalam-dalam dan lirih, hingga tertidur dalam harap yang mencekik.
Lebih mirip tenggelam dalam kolam yang tenang daripada di lautan bergelombang.
Kau adalah tepian semestaku.
Berjalan dengan indahnya di kaki langit, menunggu sebuah kepastian dari sang waktu.
Kau lah sang matahari dalam sinar bulanku.
Meriuh di satu sisi, namun dingin dan sunyi menyertai.
Aku pengagummu.
Gerakmu.
Bisikanmu.
Senandung lirihmu.
Dan hari-hari hujan dimana kau menunggu payungku.
Maaf aku tak pernah datang, waktu telah mengalahkanku.