July 28, 2015

Bisu.

Aku ingin berbagi sesuatu denganmu. Keheningan malam, cahaya lampu kota, perkiraan-perkiraanku tentang semesta, atau sekedar cerita cinta di balik lagu favoritku.
Tapi aku bahkan tak dapat merapalkan sebuah kata malam itu, satu-satunya kesempatanku bertemu denganmu. Ada ketakutan tentang masa depan di balik mulut yang terkunci itu, ada teriakan dan umpatan yang meletup-letup di kepalaku.
Kau masih misteri bagiku, apakah kau kosong atau telah terikat rasa dengan seorang rekanmu. Wahai misteri, permainkanlah aku sesukamu.
Ada hati yang kosong di tepi semesta ini, dan pintaku kau pun berkata begitu. Tapi andai kosong dan kosong saling mengisi, apakah bisa disebut memenuhi?
Dialog dini hari yang berkata lewat lagu ini seakan memberiku  sebuah ayat. Dengan dilebih-lebihkan, ia lantunkan: "Sementara waktu merubah kita".

July 25, 2015

Temu.

Aku menujumu harus menempuh jutaan langkah.
Hanya demi berharap jarak ini akan mengalah.
Aku merindumu harus menanti ratusan hari.
Hanya demi berharap satu nanti kau kan mengerti.
Aku menatapmu diam-diam dari kejauhan malam itu.
Terlalu takut terlalu dekat kau tahu kau jadi inginku.
Tulisan ini hanya satu dari beberapa yang takkan kau baca.
Aku tahu itu, tapi biarkan aku bahagia dengan mengkhayalkannya.

Cari.

Kita mencoba menata langit. Menyusun bintang serapi mungkin, menekuni setiap inchi kekosongan dan memadatkannya di bumi. Cahaya lampu gedung-gedung yang serakah, namun kesepian hingga tak mampu tuk tak saling berdekatan.

Lalu apa yang tersisa dari kegelapan itu? Wajah-wajah kelabu yang memikul rahasia. Tak ada yang tahu jika mereka menangis kemarin malam, menyesali setiap detik palsu yang mereka tunggu tak kunjung datang.

Aku, ada di satu penjuru tanah ini. Menembus gugusan rasi yang tak pernah dinamai. Menggumamkan raungan kurcaci yang menyanyi di kepalaku, sambil mengharap wajahmu ada di satu sudut jalan itu.

Di suatu lajur barisan lampu di tepian kota, aku bertanya: Apa kabarmu di sana? "Lupakan saja orang yang tak bisa kau isi hatinya," jawab pohon belimbing. Ia akan ditebang oleh pemiliknya besok, ia tak pernah berbuah uang.

Remeh.

Kadang aku hanya ingin kau membawa hatiku dalam kotak kecilmu.
Kau bisa memainkannya seperti boneka jerami, melemparnya ke langit dan menangkapnya lagi.
Menjadikannya umpanmu memancing kupu-kupu surgawi.
Meniupnya bagai gelembung daun jarak yang rapuh mengambang.
Memberinya roda kulit jeruk dan menyeretnya di sepanjang jalanmu pulang.
Memberinya nama lalu menemanimu tidur.
Kau baca saat senggang di cahaya terang.
Berikan dia gitar agar bernyanyi, ia hafal ribuan lagu remeh.
Itu lebih baik dari aku memegang hati dan impianmu di tanganku.
Kau belum tentu bahagia karenaku, apa lagi tersenyum.

Untuk Namamu.

Jika bukan kepadamu, aku tak tahu kepada siapa lagi akan kutambatkan hati ini.
Aku telah lelah berlabuh ke seribu dermaga yang dangkal.
Aku jenuh terombang-ambing ombak lautan dalam.
Biarkan, sejenak saja, aku merasakan hangat pelukmu di malam yang dingin.
Biarkan sedikit saja ku bagi kesunyian ini denganmu.
Aku tak kuasa lagi menahan semua cerita yang kusimpan sendiri selama ini.
Jika harus berbagi, aku hanya ingin kepada telingamu yang indah.
Akan ku bisikkan pelan semuanya, tanpa daya, karena aku terlalu bahagia.
Aku tak sehebat dulu menahan langkah kakiku menapak jalanan dunia.
Dan jika aku harus menggandeng seseorang, ku ingin tanganmu yang menyentuh telapakku.
Akan kusisipkan jari-jariku di antara ruas jari-jarimu, karena aku ingin sedekat mungkin denganmu.
Jika nanti kau dan aku memang harus berbagi kapal ini, aku tak tahu akan berkata apa.
Akan kuajak kau berlayar ke seluruh sudut dunia, menjelajah jutaan hari yang lebih indah dari Maladewa.
Beri aku suar, agar ku tahu letak labuhmu.
Akan kutarungi badai Pasifik, kubantai petir-petir Zeus, kutantang dinginnya Artik, demi menggapai suarmu.
Kau tahu itu, dan kau sadar kapalku tak seindah bahtera Nuh.
Bila kau ragu, aku paham alasanmu.
Andai kau tahu, aku sangat berharap kau menjadi labuhku.
Kau lah rangkuman semua petualanganku, namamu adalah harta karun dalam peta ku.