Aku ingin berbagi sesuatu denganmu. Keheningan malam, cahaya lampu kota, perkiraan-perkiraanku tentang semesta, atau sekedar cerita cinta di balik lagu favoritku.
Tapi aku bahkan tak dapat merapalkan sebuah kata malam itu, satu-satunya kesempatanku bertemu denganmu. Ada ketakutan tentang masa depan di balik mulut yang terkunci itu, ada teriakan dan umpatan yang meletup-letup di kepalaku.
Kau masih misteri bagiku, apakah kau kosong atau telah terikat rasa dengan seorang rekanmu. Wahai misteri, permainkanlah aku sesukamu.
Ada hati yang kosong di tepi semesta ini, dan pintaku kau pun berkata begitu. Tapi andai kosong dan kosong saling mengisi, apakah bisa disebut memenuhi?
Dialog dini hari yang berkata lewat lagu ini seakan memberiku sebuah ayat. Dengan dilebih-lebihkan, ia lantunkan: "Sementara waktu merubah kita".
Tapi aku bahkan tak dapat merapalkan sebuah kata malam itu, satu-satunya kesempatanku bertemu denganmu. Ada ketakutan tentang masa depan di balik mulut yang terkunci itu, ada teriakan dan umpatan yang meletup-letup di kepalaku.
Kau masih misteri bagiku, apakah kau kosong atau telah terikat rasa dengan seorang rekanmu. Wahai misteri, permainkanlah aku sesukamu.
Ada hati yang kosong di tepi semesta ini, dan pintaku kau pun berkata begitu. Tapi andai kosong dan kosong saling mengisi, apakah bisa disebut memenuhi?
Dialog dini hari yang berkata lewat lagu ini seakan memberiku sebuah ayat. Dengan dilebih-lebihkan, ia lantunkan: "Sementara waktu merubah kita".