Jika bukan kepadamu, aku tak tahu kepada siapa lagi akan kutambatkan hati ini.
Aku telah lelah berlabuh ke seribu dermaga yang dangkal.
Aku jenuh terombang-ambing ombak lautan dalam.
Biarkan, sejenak saja, aku merasakan hangat pelukmu di malam yang dingin.
Biarkan sedikit saja ku bagi kesunyian ini denganmu.
Aku tak kuasa lagi menahan semua cerita yang kusimpan sendiri selama ini.
Jika harus berbagi, aku hanya ingin kepada telingamu yang indah.
Akan ku bisikkan pelan semuanya, tanpa daya, karena aku terlalu bahagia.
Aku tak sehebat dulu menahan langkah kakiku menapak jalanan dunia.
Dan jika aku harus menggandeng seseorang, ku ingin tanganmu yang menyentuh telapakku.
Akan kusisipkan jari-jariku di antara ruas jari-jarimu, karena aku ingin sedekat mungkin denganmu.
Jika nanti kau dan aku memang harus berbagi kapal ini, aku tak tahu akan berkata apa.
Akan kuajak kau berlayar ke seluruh sudut dunia, menjelajah jutaan hari yang lebih indah dari Maladewa.
Beri aku suar, agar ku tahu letak labuhmu.
Akan kutarungi badai Pasifik, kubantai petir-petir Zeus, kutantang dinginnya Artik, demi menggapai suarmu.
Kau tahu itu, dan kau sadar kapalku tak seindah bahtera Nuh.
Bila kau ragu, aku paham alasanmu.
Andai kau tahu, aku sangat berharap kau menjadi labuhku.
Kau lah rangkuman semua petualanganku, namamu adalah harta karun dalam peta ku.
0 comments:
Post a Comment