August 09, 2015

Karat.

"Sudah, tak apa dengan kabar itu," gumamku skeptis sambil menepuk pundak sendiri.
"Mau apa lagi coba, toh kau sudah pengalaman dalam hal ini," sambut aku yang lain sambil lalu.

Ku letakkan dengan tenang earphoneku ke kedua lubang telinga yang seakan sudah lapar melahap benda plastik itu. Semua suara seakan hilang walau belum satu nada pun terputar. Aku masih harus memilih lagu yang tepat dulu sebelum benda ini bisa berbunyi.

Dengan penuh spekulasi ku pilih Love Lost milik band The Temper Trap sebagai pembuka. Memang biasanya aku memilih lagu ini untuk membentuk bayangan diriku saat menghadapi kenyataan serupa, tapi entah kenapa aku tak menikmatinya kali ini. Tetap ku dengarkan sampai habis.

Secara acak, Radiohead menyusul dengan melantunkan sebuah lagu dari album Pablo Honey mereka, Stop Whispering. Walau lagu ini adalah satu di antara beberapa lagu favoritku, tapi kali ini tetap tak ada reaksi berlebih dariku. Ku dengarkan hingga selesai.

Aku mulai abai dengan dunia luar setelah beberapa lagu lain, satu per satu, menyelesaikan antrian mereka. Perhatianku mulai terfokus pada playlistku ini. "Kenapa kau tak lagi menikmati lagu-lagu itu?" tanyaku pada aku yang lain. Aku bungkam saja.

Ku silangkan tanganku di bawah kepala, terlentang. Kurangkai lagi beberapa pola aneh di langit-langit kamar menjadi beberapa benda fantasi yang aku bahkan tak tahu itu ada atau tidak. Telingaku masih lahap memangsa nada yang keluar liar dari earphoneku.

Bosan bermain dengan langit-langit, kupejamkan mata. "Sudah saatnya?" tanyaku pada aku yang lain. "Oke boss, sekarang ya," jawabnya bersamaan dengan berakhirnya A Story of Boy Meets Girl, sebuah scoring film 500 Days of Summer karya Rob Simonsen dan Mychael Danna.

Tepat sebelum aku tahu lagu apa pun yang akan disenandungkan oleh teleponku setelah ini, kembali ku mulai bayanganku tentang dirimu. Pikiranku adalah sebuah studio mini yang kerap membuat film-film fiksi tentang kehidupan masa depanku. Dan akhir-akhir ini, kebanyakan pemerannya adalah kau dan aku.

Ya, aku memang tak bisa menjadikan kau pasanganku saat ini, tapi aku bisa berbuat apa pun dalam studio mini ini. Karena aku adalah sang produser dan aku yang lain adalah sutradaranya di sini.

Sudah kuhasilkan beberapa mimpi indah dari studio ini dan ku bagi dalam beberapa episode. Ada satu episode tentang betapa gemetarnya ruas-ruas jariku saat memegang tanganmu, juga satu episode tentang waktu yang melambat saat ku tatap dengan dalam (dengan rasuk) lubang hitam di matamu.

Tak lupa pula satu episode singkat tentang suasana sore hari di kota Blitar, saat burung-burung beterbangan pulang ke sarang dan cahaya langit mulai jingga, dan ku katakan tentang perasaanku padamu dengan degupan jantung yang meledak-ledak.

Sempat juga aku buat sebuah fiksi imajinasi tentang kau yang memberikanku senyumanmu padaku di sebuah cafe. Saat itu kita sedang berbincang tentang hidup yang panjang ini. Ku kutip senyuman itu dari senyumanmu di dunia nyata, saat aku bertemu kembali denganmu setelah sepuluh tahun lamanya.

Masih banyak episode-episode lain yang tak kusebutkan di sini. Sebagian besar melibatkan senyumanmu yang ku kutip itu, karena hanya itu fakta yang ku tahu.

"Tiga, dua, satu, action!" seru aku yang lain untuk memulai episode kali ini. Belum ku putuskan apa tema yang akan mimpikan kali ini, tapi aku tak peduli. Biasanya tema itu akan datang sendiri, sesuai dengan lagu yang kudengarkan.

Setelah kesunyian yang singkat, lantunan nada pembuka dari dua buah gitar mulai membimbingku berperan. Nada-nadanya seakan memetakan suasana lagu ini. Sayup terdengar tarikan nafas dari sang vokalis sebelum merapalkan kalimat pertamanya. Aku tahu lagu ini.

"I lose some sales and my boss won't be happy," lantun sang vokalis. Ya, aku kenal lagu ini, ini adalah Homesick dari Kings Of Convenience. Setting lokasi cerita mulai tergambar, pelan-pelan dari pudar namun semakin lama semakin jelas. Aku sadar, ini adalah kamarku, tempatku merebah saat ini di dunia nyata, tanpa ada yang berbeda.

"Kali ini, perankanlah aku dalam dunia nyata. Kau sudah hafal naskahnya, kau sudah paham perannya, dan kau sudah kenal betul latar belakangnya," kata aku yang lain, sang sutradara.

Aku tak menolak apa pun dari instruksi itu. Selain aku memang tak bisa menolaknya, aku juga tak mau. Sudah terlalu lahap telingaku menancapkan taringnya dalam lagu ini.

Ku mulai peranku dengan mengingat lagi rasa kebas di hati ini saat ku baca pesan singkat temanmu. "Sudah ada seseorang yang mengisi hatinya," bisik temanmu lewat pesan itu. Kuingat lagi setiap detil detik kebas itu.

Entah mengapa hatiku tak hancur saat membacanya, aku juga heran. Tapi jelas aku merasa kebas, bagai jutaan kaki kecil semut-semut hitam merayapi sesuatu di antara perut dan dadaku. Semut-semut itu memakan semua bayangan manis tentang kekosongan di hatimu, yang ku simpan di dalam sini.

Kutelaah lebih jauh, aku mulai bertanya kenapa hatiku tidak hancur saja seperti biasanya. Aku sudah berkali-kali mengalami yang seperti ini, tapi baru kali ini aku tidak hancur. Apakah karena dia tidak spesial? Apakah karena aku tak sungguh-sungguh ingin menjadikan fiksi-fiksi itu dokumenter terbaik dalam hidupku? Atau ada hal lain?

Sementara aku berfikir, lagu ini telah usai. "Sebentar! Aku belum selesai!" seruku. Ku putar kembali lagu itu, ku pilih opsi untuk mengulangnya terus menerus agar aku tak berhenti di tengah jalan lagi. Sang Raja pun kembali memainkan gitarnya.

Aku dengarkan lagu ini sambil terus berfikir. Lama kelamaan, sayup ku dengar jawaban dari aku yang lain. "Kau sudah berhati besi, mungkin," tuturnya.

"Bisa jadi," jawabku. Semua kejadian serupa yang telah menghancurkan hatiku berhasil membuat aku yang lain lebih berhati-hati dalam merangkainya lagi. "Apa kau memolesnya dengan besi setelah yang lalu?" tanyaku.

"Mungkin," jawabnya. Jawaban itu tak membuatku yakin. Ku buka saja catatan perbaikan yang sudah ku buat.

Ya, sepertinya setelah yang lalu, aku sudah memolesnya dengan besi. "Aku memang sudah memolesnya dengan besi agar tak mudah pecah lagi," terangku. Aku yang lain hanya mengangguk asal.

"Jadi yang ini tak spesial?" tanyaku. "Tapi rasa kebas apa ini?" Aku dan aku yang lain hanya terdiam, saling pandang dengan tatapan kosong.

Aku yang lain lagi, yang selama ini hanya diam sambil menontonku dan aku yang lain bermain fiksi akhirnya angkat bicara. "Kita sudah tumbuh lebih tua, waktu yang memberi tahu," katanya.

"Apa maksudmu, bodoh?" sentak aku yang lain. Kupalingkan pandanganku padanya pula. Dia hanya memasang mimik wajah datar.

"Kini kita tak lagi bisa berharap sesuka hati. Coba dengarkan saja lagu ini," katanya. Tepat di saat itu, terlantunlah lirik "Everyday there's a boy in the mirror asking me what are you doing here."

Aku masih belum mengerti, tapi merasa sangat setuju dengan lagu ini. Akhirnya ku coba sekali lagi menikmatinya. Ku sesap makna-makna terkecilnya dan ku bumbui dengan interpretasiku sesuai selera.

Lagu ini entah mengapa memiliki kekuatan tersendiri untuk kusukai kali ini. Setelah beberapa saat mencari petunjuk, aku lihat segaris cahaya terang di sana. "Boleh aku bicara?" tanyaku pada mereka berdua. Tak ada anggukan atau gestur lainnya, hanya pandangan mata mereka yang menjawab setuju.

"Aku adalah seorang bocah yang memiliki impian besar, menaklukkan dunia ini dan berpetualang menjelajah setiap sudut indahnya," tuturku. "Untuk itu, aku beberapa saat lalu mencoba membangun mimpi itu dengan mengumpulkan uang di kota ini. Padahal selama ini aku sangat membenci kota ini."

Kedua orang itu mulai tertarik dengan kata-kataku. Mereka mulai mengangguk kecil. Kulanjutkan kata-kataku.

"Selama mencari uang, aku simpan semua rasa benci, jenuh, tak nyaman, lelah, tertekan, takut, sedih, kebingungan, gelisah, khawatir, dan kecewa dalam sebuah liang dalam yang ku gali dalam hatiku demi mewujudkan mimpi itu," terangku bagai guru.

Ku tarik nafas panjang. Mereka pun mengikutiku.

"Sialnya, saat ku kubur semua rasa itu, mereka melebur di dalam liang itu, menjadi bijih-bijih besi yang kau tambang kemarin dulu," kataku sambil menunjuk aku yang lain.

"Oh ya, benar, aku yang menambang bijih-bijih besi itu. Ku tempa mereka menjadi lembaran-lembaran besi yang ku gunakan untuk melapisi hati kita," katanya.

Aku yang lain lagi mengalihkan pandangannya ke aku yang lain. "Lalu?" tanyanya.

"Aku menyadarinya saat mendengarkan lagu ini. Lagu ini menceritakan tentang seseorang yang ingin pulang namun masih banyak hal lain yang harus diselesaikan untuk mimpinya, seperti kita!" seru aku yang lain. "Akhirnya rasa ingin pulang itu pun ia tutupi dengan lempengan besi ini. Begitu pula dengan perasaan-perasaan lainnya."

"Termasuk rasa 'itu'?" tanya aku yang lain lagi. "Jadi kita juga menutupinya dengan lempengan besi yang terbentuk dari kumpulan rasa yang kau pendam itu?"

"Bisa jadi," jawabnya. "Bagaimana menurutmu?" tanyanya padaku.

"Sepertinya begitu. Tapi entah mengapa perempuan itu masih bisa memberikan rasa kebas di hati yang berselimut besi ini," jawabku.

Kami semua terdiam. Lagu ini telah berakhir sekali lagi, dan kembali berputar sekali lagi. Kami resapi benar-benar dengan mata terpejam kali ini, dari awal hingga akhir. Sekali lagi lagu ini berakhir dan kembali berputar.

Bayangmu mulai kembali lagi ke benakku. Kau lah perempuan itu. Rasa kebas itu datang lagi, merayap rata di seluruh hatiku saat aku membayangkanmu. Semakin lama semakin terasa, aku pun tak dapat menolak untuk kembali membayangkan senyum-

"Tunggu!" sentakku. "Senyum itu!" Kami bertiga saling pandang seolah tak percaya kami baru menemukan sesuatu.

"Ya! Aku tahu! Ini semua karena senyum itu!" seruku. "Senyum sangat tajam hingga menembus lempengan besi kita, dan entah bagaimana membuat hati ini terasa kebas!"

"Benar! Dia berhasil menembus pertahanan kita!" imbuh aku yang lain lagi. "Tapi jika memang senyuman itu tajam, bukankah seharusnya hanya satu sisi saja yang merasakannya, sementara kebas ini rata?"

"Benar. Atau mungkin senyumnya adalah seribu jarum yang menusuk-nusuk seluruh lempengan ini?" jawab dan tanya aku yang lain. "Jadi penasaran dengan lubang yang sudah dia buat," ujarnya sinis.

"Tapi aneh, kenapa kita tak merasa tertusuk apa pun saat senyum itu kita dapat? Kenapa harus menunggu kabar tentang hatinya yang telah terisi dulu?" timpalku sedikit keheranan.

Kembali, aku berpikir keras. Ku rangkai dari awal saat aku kembali bertemu denganmu, kau dengan baju ungu itu, ku pandang dari jauh, akhirnya kita bertukar sapa, terlontar canda kecil, lalu akhirnya kau lemparkan senyum itu padaku.

Sejak saat itu kucoba cari jalan menujumu. Tapi apa mau dikata, aku malah tersesat tanpa petunjuk. Hingga akhirnya kutanya temanmu tentangmu, dan ku dapat lah kabar itu. Tetap tak kutemukan ada tusukan, sayatan, pukulan, atau apa pun darimu yang bisa melukaiku. Hanya cerita tentangmu yang telah memilih, yang memberiku rasa kebas ini.

"Aku tidak tahu," kata kami hampir serentak saat lagu Homesick yang terus terputar sejak tadi hampir berakhir lagi.

Aku yang lain mencoba membuka kata. "Bagaimana jika kita lihat hati kita?" katanya. "Jadi kita bisa tahu luka apa yang ia sebabkan, bagaimana bentuknya, dan mungkin alasan mengapa 'luka' ini tidak menghancurkan hati kita. Bahkan tak ada rasa sakit!"

Aku setuju. Kutarik nafas pelan sebelum kuanggukkan kepala. Aku yang lain lagi malah lebih dulu menganggukkan kepalanya. Aku menyusulnya.

Kami semua menengok ke belakang, melihat sebuah jalan setapak menuju tempat hati kami bersembunyi. Kami hampiri pelan-pelan agar dia tidak kabur lagi.  Begitu kami yakin kami sudah sampai di tempat hati itu bersembunyi, kami menutup mata. Kami memang hanya bisa melihatnya saat memejamkan mata.

Betapa mengagetkan yang kami lihat. Hati itu nampak usang, compang-camping tak karuan, lebih tepatnya digerus oleh karat.

"Hei! Besi ini berkarat!" seruku. "Tapi lihat, tak ada luka tusuk sama sekali. Hanya karat ini mengelupas lapisan-lapisannya satu per satu."

"Kau lah yang melapisinya dengan besi! Kau lah yang merusaknya!" kata aku yang lain lagi. Tapi sejenak ia terdiam dan melanjutkan kata-katanya dengan lebih tenang. "Tapi tidak seharusnya besi ini berkarat, di luarnya hanyalah ruang hampa yang bernama logika."

Kembali kami terdiam. Kami tahu ada permainan kimia yang membuat besi jadi berkarat. Tapi kami benar-benar kehilangan petunjuk mengapa besi ini bisa berkarat walau tanpa ada reaksi kimia apa pun.

"Jangan salah, ada satu hal yang secara bodohnya tak kau sadari sedari tadi," celetuk seorang aku. "Berapa kali kau hirup nafas panjang tadi, idiot."

Kami bertiga, yang adalah satu aku, tercengang mendengarnya. Betapa bodohnya aku tak menyadari berapa kali ku tenangkan diri saat mendengarkan lagu Homesick berputar dengan menghirup nafas panjang. Sejuta kesimpulan menyerbu pikiranku. Aku tahu ini, aku tahu itu, kenapa, mengapa, bagaimana, dan satu hal penting, siapa: Kau.

Ini bukan kebas, tapi rasa yang ada saat hati ini terkupas lapisan demi lapisannya. Karat yang pertama terbentuk saat aku satukan hati dan pikiran, mimpi dan logika, saat ku tahu nyatanya hatimu telah terisi. Ini adalah rasa yang ditimbulkan oleh karat yang terbentuk akibat reaksi besi ke oksigen. Rasa yang menggerus perlahan hatiku dari permukaannya hingga lapisan yang terdalam.

Ya, ada oksigen di sini. Oksigen yang dihasilkan oleh pohon perasaanku padamu. Pohon yang menancapkan akarnya, kuat, ke pikiranku. Karenanya aku sering habiskan waktuku untuk itu.

Pohon ini berasal dari bibit yang kau beri padaku dan ku tanam seketika. Bibit perasaan 'itu' yang ku tanam tepat di ingatanku tentang senyummu. Aku pilih senyummu karena aku sangat mengaguminya.

"Kita sudah salah selama ini, dia tidak melukai siapa pun. Dia memberi kehidupan, malahan," kataku lirih. "Itulah mengapa lagu ini menjadi tema kali ini."

Aku telah mencabut sebagian rasa demi mimpiku, menguburnya, bahkan menempanya menjadi lempengan-lempengan besi yang dingin dan kugunakan untuk menutupi hati dari apa pun, termasuk rasa rindu rumah. Aku tak lagi peduli di mana rumahku, aku hanya melihat lurus ke arah tujuanku.

Tapi kau beri aku satu bibit rasa 'itu'. Ku tanam di senyummu yang indah, dan kini ia telah tumbuh menjadi pohon yang mengakar kuat. Ia buat oksigen dari sari pati waktu dengan bantuan cahaya bulanmu yang menyelimuti malamku.

Oksigen ini pun mengkaratkan besi dingin itu pelan-pelan, dimulai saat ku terima pesan pendek dari temannya itu. Pesan yang membenturkan dunia fiksiku dan dunia nyata. Menyatukan lempengan besi ini dengan oksigen hasil pohon yang telah mengakar kuat itu.

Tak hanya itu, oksigen ini memberi kehidupan lagi pada rasa-rasa yang sudah ku bunuh. Mereka kembali tumbuh, dari kecil lagi, satu per satu. Aku kembali tak mati rasa. Aku takut, sedih, kebingungan, juga rindu pulang. Aku jadi manusia lagi, aku hidup lagi.

Aku takut oleh waktu yang semakin mengancam. Sebentar lagi aku sudah tak boleh berharap tentangmu lagi. Aku harus menyerah nanti, tapi tidak sekarang. Karena rasa takut ini membuatku berhati-hati.

Aku sedih karena aku tak bisa memilikimu secara pasti. Hatimu telah terisi dan tak ada ruang atau
kesempatan lagi. Aku akan menerimanya nanti, tapi tidak sekarang. Karena rasa sedih ini membuatku kembali belajar.

Aku kebingungan sebab kita terpisah dalam segalanya. Jarak dan keadaan membuat semuanya tak memungkinkan. Aku pasti melepaskannya nanti, tapi tidak sekarang. Karena kebingungan ini membuatku berpikir.

"Hei! Hati ini terus tergerus. Apa yang bisa terjadi nanti?" tanya seorang aku.

"Kau akan sampai di lapisan yang terdalam," jawabku.

"Apa isi lapisan terdalam itu?" tanyanya lagi.

"Seorang anak laki-laki. Ku dengar ia cengeng," jawab aku yang lain.

"Kita lihat saja di mana kita saat dia datang nanti," tambah aku yang lain lagi. "Bisa jadi kita sudah ada di tempat tujuan kita, bisa jadi kita masih di tengah jalan, bahkan bisa jadi kita sudah pul-"

Kata-katanya tersendat. Ada kata yang seharusnya diselesaikan tapi tidak diselesaikannya. Ada bayangan pekat tentang pelukan hangat seorang wanita yang menyambutnya di depan pintu. Semua orang merasakan apa yang kurasakan.

"Aku rindu pulang. Aku benar-benar rindu pulang," gumamku lirih. "Tapi saat ini hanya satu tempat untuk pulang yang dapat kupikirkan, dan aku masih belum bisa menujunya."

"Aku tahu, aku juga berpikiran sama," kata aku yang lain.

"Ya, hanya ada satu tempat," tambah aku yang lain lagi.

"Sebuah dunia, dimana aku bersama perempuan itu," tutur seorang aku.

Tepat di sini, pembicaraan itu berhenti. Semua kegiatan di studio mini itu telah usai. Aku memilih untuk tak memutar ulang lagu Homesick ini. Aku pilih sadar, diam, merasakan kesunyian dalam kamarku yang gelap. Aku ingin merasakan semesta tempat kau dan aku hidup di dunia yang sama, namun terpisahkan berbagai hal lainnya.

Semesta tempat pohon itu hidup, menghidupi hatiku, serta mengikis lapisan-lapisannya. Mencoba memunculkan intinya, aku kecil yang cengeng, dan memberi pertanyaan apakah nanti dia akan kau tenangkan di pundakmu atau tidak.

Semesta tempatku berjalan, menuju satu titik yang menjadi mimpiku. Dan sebuah tempat untuk pulang yang baru-baru ini ku temukan. Jika aku bisa, aku akan mencoba berkunjung di beberapa hari. Tapi tidak saat ini, karena aku masih harus mengejar mimpi.

Entah apakah nanti akan aku lupakan tempatku pulang itu saat sudah ku capai mimpi, atau bahkan tempat itu telah hilang karena terlalu lama kulupakan. Bahkan apakah tempat itu ada? Aku tak tahu, aku hanya menuruti bisikan aku kecil yang cengeng ini.

Hanya satu tempat yang menjadi tujuanku pulang saat ini: sebuah dunia bersamamu. Sementara aku belum bisa kembali ke sana, aku akan terus melangkah menuju mimpiku. Semoga aku masih boleh pulang.

0 comments:

Post a Comment